Waktu baca : 3 menit
Selalu menyenangkan mengamati pergerakan politik negara adidaya macam Amerika Serikat. Apalagi di tahun pemilu saat ini, dengan tokoh gila seperti Donald Trump sebagai aktornya. Wah, lengkap sudah keseruannya.
Tak dapat dimungkiri memang hingga saat ini Trump adalah sosok yang paling diunggulkan untuk pemilu ke depan. Posisinya saat ini sebagai petahana membuatnya bisa melakukan berbagai kebijakan atas nama negara yang akan menguntungkannya. Salah satunya adalah dengan rally ’round the flag effect.
Rally ’round the flag effect sendiri adalah suatu ungkapan politik yang mengungkapkan hubungan antara popularitas presiden AS dengan suatu peristiwa internasional tertentu.
John Mueller, tokoh peneliti politik Amerika menyatakan ada tiga aspek yang harus terpenuhi dari rally ’round the flag effect agar dapat menaikkan popularitas presiden. Ketiganya adalah : peristiwa harus bersifat global, melibatkan AS dan presiden secara langsung, serta berefek dramatis. Dan sejak tahun lalu hingga awal tahun ini, Trump sudah memicu ketiga parameter tersebut dengan meluncurkan serangan yang membunuh pendiri organisasi teroris ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi serta jenderal penting Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani.
Apakah cara yang sedemikian ekstremnya memang dapat menaikkan popularitas presiden? Kemungkinan besar iya.
Kematian Qassem Soleimani awal tahun ini memang sempat membuat seisi dunia ketir-ketir terhadap ancaman adanya perang dunia 3. Namun bagi presiden Amerika, ini adalah momen yang tepat untuk mempertontonkan kedigdayaan negaranya di mata dunia sekaligus patriotismenya kepada rakyat Amerika.
Dan hal seperti itulah yang nampaknya disukai rakyat Amerika. Terbukti dalam beberapa kali pemilu AS, taktik seperti ini cukup sukses menaikkan elektabilitas calon presiden dari kubu petahana. Barrack Obama, misalnya. Usai Osama bin Laden dihabisi oleh tentara AS di Pakistan tahun 2011, elektabilitasnya sebagai calon dari pihak petahana berhasil naik 9 persen.
Tidak hanya Obama, banyak sosok lain yang berhasil mengerek popularitas dari peristiwa internasional. Franklin Roosevelt berhasil meraih tambahan 12 persen pasca-serangan Pearl Harbour. Persentase dukungan terhadap Richard Nixon juga melonjak 16 persen setelah penandatanganan perjanjian damai perang Vietnam. Dan kenaikan tertinggi dipegang oleh George W. Bush yang naik sebesar 35 persen pasca tragedi WTC 11 September 2001.
Lalu apakah kegemparan kelas dunia yang dilakukan Trump merupakan jaminan melonjaknya dukungan terhadap dia? Masih belum tentu juga.
Masalahnya, citra Trump sendiri sudah tercoreng akibat serangkaian kasus yang mencatut namanya. Mulai dari dugaan kecurangan pilpres 2016, rencana pembangunan tembok AS-Meksiko yang sempat memicu government shutdown, larangan masuk bagi orang yang berasal dari tujuh negara yang mayoritas muslim, hingga isu pemakzulan yang terjadi menjelang akhir tahun kemarin, semua kejadian tersebut turut menurunkan popularitas Trump sendiri. Data terbaru awal Januari menyatakan persentase ketidaksukaan terhadap Trump mencapai angka 53.1 persen.
Trump memang banyak tak disukai berkaitan dengan kebijakannya yang sering sembrono. Bahkan penyerangan terhadap Iran kemarin ia lakukan tanpa berkonsultansi dengan Kongres. Keputusan tersebut ia ambil di tengah liburan santainya di florida.
Maka tak heran apabila meskipun Trump telah berusaha membombardir Iran, angka popularitasnya akan cenderung stagnan atau bahkan turun, diikuti dengan kenaikan angka ketidaksukaan terhadapnya. Sekarang layak dinanti, drama macam mana lagi yang akan Trump buat demi menaikkan popularitasnya lagi. l�?o�g� ��